Adalah salah satu pura penting yang terletak di wilayah selatan Bali, berada di atas pantai di barat laut Pulau Serangan, yaitu sebuah pulau kecil yang berjarak sekitar 10 kilometer di selatan Denpasar. Pura ini masih memiliki hubungan dengan Buddha, yang melinggih Ida Bhatara Sakya Muni. Sebagaimana dengan pura-pura lain, setiap pengunjung yang hendak masuk ke tempat suci Pura Sakenan wajib mengenakan sarung dan sabuk kain khas Bali serta bagi yang wanita tidak sedang dalam masa menstruasi. Pulau Serangan tempat Pura Sakenan berada hanya berukuran 2,9 kilometer dengan lebar 1 kilometer. Nama Serangan berasal dari kata sira dan angen atau "kangen/ sayang". Pura Sakenan dibangun dengan latar belakang wujud syukur orang yang merasa sira angen dengan keindahan alam pulau ini.
Berdasarkan Purana Pura Sakenan yang
disusun oleh Tim Dinas Kebudayaan Bali, bahwa di Pura Sakenan ini dulu
sebagai tempat krama subak mohon berkah Tuhan. Di mana, Pura Sakenan tempat
mereka memohon kesejahteraan hidup. Memohon agar segala macam penyakit yang
merusak tanaman di sawah atau ladang agar dilenyapkan. Disebutkan dalam
purana itu bahwa Hyang Sakenan menjaga walang sangit dan Hyang Masceti
menjaga tikus agar tidak merusak sawah dan ladang petani. Dan, ini harus
diingat.
Bagaimana dengan sekarang? Sawah dan
ladang petani di sekitar wilayah Sakenan tidak berfungsi lagi. Yang
berkembang justru pariwisatanya. Yang menjadi sawah dan ladang penduduk di
sana pariwisatanya dengan mengembangkan wisata bahari. Karena itu, para
pelaku pariwisata diharapkan memohon kesejahteraan hidup di Pura Sakenan,
agar objek-objek wisata seperti Sanur, Kuta, Nusa Dua, dan Denpasar bisa
aman.
Jika pelaku wisata memohon
kesejahteraan dengan tulus, niscaya tidak ada lagi kelompok teroris yang
mengacaukan pariwisata Bali. Kelompok teroris itulah kini diibaratkan walang
sangit dan tikus-tikus di sawah. Oleh karena itu, hanya memohon kepada-Nya
niscaya ''tikus-tikus'' tidak mengganggu pariwisata Bali. Sudahkah hal itu
dilakukan? Jawabannya pada umat.
Sejak zaman dulu Hyang Maharesi
Markandya membangun serta menata keberadaan desa-desa dan menciptakan
kesejahteraan masyarakat. Dengan permohonan kesejahteraan hidup itu,
menyebabkan segala jenis tumbuhan yang ditanam, baik yang ditanam di tegalan
maupun sawah semuanya tumbuh dengan subur. Itulah yang menyebabkan para
pengikut beliau sangat taat dan sama-sama menciptakan kesejahteraan, semuanya
bersatu dan hormat kepada Sang Dwijaswara. Oleh karena demikian asal-usulnya
Sakenan itu, maka disebut juga Sad Kahyangan. Dibolehkan menggunakan candi
bentar dan candi kurung. Adapun pakelem/padagingan candi kurung di puncak dan
di dasarnya. Sarananya emas mirah dan selaka. Sementara sesuaran/tulisan pada
pripihan-nya.
Saat beliau mengawali membangun Pura
Sakenan, berdasarkan ketentuan patut diaturkan saji hyasan, segehan agung
selengkapnya. Patut miasa 21 kali. Itulah yang patut diketahui bila membangun
bangunan untuk Batara Sakenan. Bila dilanggar menyebabkan kacau seluruh
negara (jagat). Oleh karena itu, tak boleh sembarangan membangun pelinggih.
Sebab, orang-orang suci membangun tempat suci, bentuk bangunan, dan
perlengkapannya berdasarkan hasil meditasi.
Ada juga disebutkan, Pura Sakenan
termasuk salah satu Sad Kretiloka. Disebut sebagai simbol dari Sad Darsana.
Disebut Sad Kretih yaitu Atma Kretih, Samudra Kretih, Wana Kretih, Jagat
Kretih dan Jana Kretih.
Pura Sakenan sendiri disebut Samudra
Kretih. Sakenan itu sebagai tempat pemujaan Ida Hyang Dewa Biswarna atau
Baruna. Beliau benar-benar sebagai penjaga Segara Pakretih (ketenangan
lautan/samudera) untuk keselamatan dunia, menghilangkan segala jenis rintangan
di dunia, dan segala jenis penyakit dan menyucikan segala jenis kala, bhuta
dan manusia, dan berbagai jenis penyakit. Demikianlah yang disebutkan di
dalam sastra. Oleh karena itu, bagi umat Hindu janganlah melanggarnya.
Pura Sakenan adalah tempat yang
sangat suci dan tempat memohon keselamatan seluruh dunia. Tempat pemujaan
beliau didirikan di tepi laut selatan di wilayah Desa Serangan. Bangunan suci
parahyangan itu dinamakan Parahyangan Dalem Sakenan (Pura Dalem Sakenan)
sebagai tempat berstananya Hyang Sandhijaya. Mengapa dinamakan Dalem Sakenan?
Karena memang titah dari Batara yang memberikan petunjuk pada saat beliau
memilih pulau-pulau kecil di laut selatan. Di tempat itulah dibangun Pura
Sakenan karena sebagai perintah melalui suara-suara gaib (sabda) Ida Batara.
Pura Dalem Sakenan merupakan stana
Hyang Sandhijaya juga disebut Tatmajuja, selalu menjaga ketenangan lautan
(segara pakreti), penyelamat dunia dam merayascita segala macam kala bhuta,
manusia dan segala jenis penyakit, menghilangkan segala jenis bencana di
dunia.
Sejarah Pura Sakenan juga tak bisa
lepas dari perjalanan orang-orang suci seperti Danghyang Nirarta, Empu
Kuturan, dll. Dulu, pada saat pembangunan Candi Sekar Kancing Gelung,
orang-orang yang ada di Serangan dan di sekitarnya dengan semangat untuk
ngaturang ayah. Mereka bersatu dan semuanya memohon kesejahteraan hidup.
Adapun orang yang ada di sekitar Serangan saat itu antara lain berasal dari
Intaran, Suwung, Kepaon, Pemogan, Kelan, Jimbaran, Panjer, Dukuh Siran dan
banyak lagi.
Pura Sakenan berkonsep swamandala
terdiri atas pelinggih-pelinggih dan bangunan-bangunan yang ada di dalamnya.
Pura Sakenan terdiri atas dua pelebah yaitu Pura Dalem Sakenan dan Pura
Pesamuan/Penataran Agung Sakenan.
Pura Sakenan mempunyai tiga halaman
(trimandala): utama mandala, madya mandala, dan nista mandala. Masing-masing
halamam dibatasi oleh tembok keliling lengkap dengan kori agung, apit lawang
dan bebetelan. Pada puncak kori agung dipahatkan hiasan kepala kala. Di dalam
utama mandala terdapat sejumlah pelinggih seperti candi, bale tajuk, bale
pesandekan, dan apit lawang.
Di depan Candi Kurung yang
menghubungkan utama mandala dan madya mandala terdapat dua buah arca Ganesha
yang mengapit Candi Kurung. Madya mandala ini seluruhnya dikelilingi oleh
tembok penyengker lengkap dengan Candi Bentar pada sisi sebelah baratnya dan
petetesan pada sisi utara dan timurnya. Di nista mandala hanya berupa halaman
kosong.
Bangunan pelinggih yang ada di utama
mandala yakni bebatuan berupa Padma Capah stana Ida Batara Masjati, juga
sebagai pemujaan Jro Dukuh Sakti. Meru Tumpang Tiga stana Batara Batur,
Intaran, Ida Batara Muter. Gedong Jati stana Ida Ratu Ayu, Gedong (Tajuk)
stana Batara Buitan dan Batara Muntur. Ada pula bale gede atau bale paruman
fungsinya sebagai tempat pesamuan para pemangku, dan juga tempat penyucian
pratima Ida Batara dan tempat para sulinggih dan para raja pada saat ada
upacara pujawali.
Diceritakan bahwa keturunan Ida
Batara Sakti Pemecutan yang bertahta di Puri Pemecutan, semuanya sudah
mendapat kedudukan dan sekaligus mendapat tugas menjadi penganceng, pengempon
yang berada di wilayah Kerajaan Badung. Puri Agung Kesiman ditugasi sebagai
pengempon Pura Sakenan, Puri Oka Denpasar pengempon Pura Susunan Wadon dan
Pura Batu Tegeh. Puri Agung Jro Kuta pengempon Pura Uluwatu, Puri Kaler Kawan
pengempon Pura Geger dan Pura Pucak Tedung, Puri Denpasar pengempon Pura-pura
lainnya yang ada di wilayah Jembrana dan Bukit dan Puri Langon pengempon Pura
Peti Tenget. Maka mulai saat itu Puri Agung Kesiman menjadi
penganceng/pengempon Pura Sakenan sampai sekarang.
|
|
Pura Sakenan terletak di Pulau
Serangan, Desa Serangan, Denpasar Selatan. Pura atau kahyangan ini dibangun
oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha bersamaan dengan pembangunan beberapa
pura lainnya pada zaman pemerintahan raja suami-istri Sri Masula Masuli.
Dalam lontar Usana Bali antara lain
disebutkan, Mpu Kuturan juga disebut Mpu Rajakretha. Ia membangun pura
berdasar konsep yang dibawanya dari Majapahit (Jawa Timur), diterapkan di
Bali seluruhnya. Mengenai bertahtanya Sri Masula Masuli di Bali dapat
diketahui dari prasasti Desa Sading, Mengwi, Badung. Prasasti itu bertahun
Icaka 1172 atau 1250 M. Di situ disebut, Raja Sri Masula Masuli menjadi raja
di Bali sejak tahun Icaka 1100 (1178 M). Raja ini memerintah selama 77 tahun.
Artinya, ia mengakhiri pemerintahannya sekitar tahun Icaka 1177 (1255 M).
Ketika Danghyang Nirartha mengadakan
perjalanan keliling Bali mengunjungi tempat-tempat suci, ia sampai pula di
Pulau Serangan. Lalu, di bagian barat pantai Pulau Serangan dibangunlah pura.
Di situ, Danghyang Nirartha dapat menyatukan pikirannya secara langsung.
Mengenai peristiwa ini, dalam Dwijendra Tattwa, antara lain diuraikan sbb.;
"...sesudah Danghyang Nirartha mensucikan diri di Bukit Payung, lalu
beliau meneruskan perjalanan dengan menyusur pantai laut yang sangat indah
dan mempesonakan menuju arah utara. Pantai yang dilalui cukup permai dengan
pasirnya yang memutih memberikan keindahan alam yang mempesonakan, ditambah
lagi dengan herembusnya angin dan lautan yang dapat menyegarkan jasmani
beliau."
Lalu disebutkan lagi, "Dalam
perjalanannya ini kemudian beliau menjumpai dua buah pulau kecil yaitu Nusa
Dwa. Di pulau ini Danghyang Nirartha lagi beristirahat untuk melepaskan
lelah, dan di sinilah beliau menyusun sajak atau kakawin Anjangsana Nirartha.
Setelah selesai mencatat dan menyusun segala sesuatu yang berkaitan dengan
sajak ini, Danghyang Nirartha lagi melanjutkan perjalanan menuju arah
utara."
Tak dikisahkan bagaimana halnya di
dalam perjalanannya, sampailah Danghyang Nirartha di suatu pulau kecil yaitu
Serangan. Pada pantai bagian barat Pulau Serangan, Danghyang Nirartha
beristirahat sambil mengagumi keindahan alam sekitarnya. Di tempat itu ia
merasakan dan menyaksikan perpaduan harmonis antara daratan pulau Serangan
dengan laut yang mengelilinginya. Karenanya, Danghyang Nirartha berketetapan
hati dan memutuskan untuk tinggal dan bermalam beberapa hari di sana.
Akhirnya, di situlah Danghyang
Nirartha membangun palinggih (bangunan suci) di Pura atau Kahyangan Sakenan.
Sakenan berasal dan kata cakya yang berarti dapat langsung menyatukan
pikiran. Pujawali atau piodalan di Pura Sakenan jatuh pada setiap 210 hari,
pada Sabtu Kliwon, wara Kuningan, bertepatan dengan hari raya Kuningan.
Sedangkan keramaiannya diselenggarakan pada Minggu Umanis, wara Langkir.
Ada hal penting yang setidaknya harus
diperhatikan oleh para umat atau pemedek yang hendak tangkil ngaturang bakti
atau bersembayang ke Pura Sakenan. Konon, hal ini masih rancu terjadi. Yang
sering terjadi, umat melakukan persembahyangan di Pura Dalem Sakenan (pura
yang di pinggir paling barat) dan di Pura Susunan Agung (di sebelah timur Dalem
Sakenan), setelah itu langsung pulang.
Dalam pasamuan atau rapat nyanggra
piodalan di Pura Sakenan yang sudah digelar, dijelaskan bahwa persembahyangan
itu merupakan satu paket. Artinya, pemedek harus bersembahyang (1) ke Pura
Susunan Wadon -- sekitar 0,5 km ke timur Pura Sakenan), (2) ke Pura Susunan
Agung, dan (3) ke Pura Dalem Sakenan -- pada pelingih paling barat di pinggir
pantai yang berbentuk Padmasana.
Dalam kajian sastranya, rangkaian ini
bisa di telusuri dari kata Pura Susunan Wadon, Susunan Agung, dan Pura Dalem
Sakenan. Terdapat suatu pengertian Purusa, Pradhana dan Susunan Agung adalah
Lingga, Yoni dan Susunan Agung adalah tempat penyatuan antara Purusa dan
Pradana -- penyatuan sang diri dengan maharoh sebagai asal mula setiap mahluk
hidup. Pemahaman inilah yang ditemukan Mpu Kuturan sehingga melahirkan Pura
Sununan Lanang dan Susunan Wadon.
Pun dengan kehadiran Dang Hyang
Nirartha, juga terjadi hal yang sama. Sehingga, sebagai penghormatan terhadap
beliau, maka dibuatkanlah pelinggih Pura Dalem Sakenan yang merupakan
penyatuan antara Siwa dan Budha.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar